Jatuh hati pada diksi - Ridwan Nurhadi

Breaking

Teacher | Writer | Trainer | Blogger | Youtuber

Minggu, 12 April 2020

Jatuh hati pada diksi




Wah narasumber kali ini penuh dengan keilmuan dibidang linguistik, pertama kali beliau hadir di kuliah online, saya langsung memotong dengan pertanyaan "Kalau buat cerita fiksi gak harus serumit ini kan?" Eh beliau jawab kalau cerita fiksi terserah kata Glen Freddly. Kok saya ngotot amat ya?  maklum saya punya cerita fiksi Cerita di Angkot Hari Ini (CAHI) belum beres beres. Kurang berpengalaman dalam bidang fiksi alias menghayal.. 



Narasumber untuk materi ini adalah Imam Fitri Rahmadi. Beliau adalah seorang dosen Universitas Pamulang yang sekarang sedang kuliah S3 di Johannes Kepler Universität Linz Austria sejak tahun 2019 sampai sekarang. Imam Fitri Rahmadi pernah menulis 2 buku yang diterbitkan oleh Elex Media Komputindo ketika masih kuliah S1 di UIN Jakarta (2018-2013). Pada penghujung kuliah S2 di Universitas Negeri Jakarta (2016), Imam mulai tertarik untuk menekuni penulisan akademik. Pada akhirnya, ketika mulai menjadi dosen di Universitas Pamulang (2017), Imam mengelola jurnal, menjadi reviewer jurnal kampus lain, dan banyak mengikuti pelatihan penulisan akademik Bahasa Inggris untuk keperluan persiapan studi lanjut ke luar negeri.
Selain melakukan tugasnya sebagai seorang dosen dan akademisi, Imam juga menulis didalam blog pribadinya, yang salah satunya adalah https://tigabelase.wordpress.com/. Blog ini merupakan blog yang kesekian kalinya yang berisi tulisan tentang bagaimana menulis dalam konteks akademik. Seperti yang telah disampaikan bahwa saat ini Mas Imam sedang menjalankan studi S3 di Johannes Kepler Universität Linz Austria dan semester ini beliau sedang mengambil mata kuliah Academic Writing English untuk belajar lebih lanjut tentang penulisan akademik. Bertepatan dengan itu semua, beliau diminta oleh Omjay untuk mengisi materi yang sedikit lebih teoretis tentang dasar menulis.
Paparan materi hari ini mengenai dasar menulis yang meliputi pemilihan kata, penulisan kalimat, dan penyusunan paragraf. Materi ini bisa digunakan tidak hanya untuk penulisan akademik, tetapi juga untuk penulisan personal dan formal agar materi dapat bermanfaat bagi semua peserta pelatihan yang beragam. Untuk pemaparan hari ini beliau sudah menyiapkan tulisan khusus di blog berisi materi yang dimaksud yaitu https://tigabelase.wordpress.com/2020/04/06/dasar-menulis-kata-kalimat-dan-paragraf. Pemaparan materi hari ini dibagi menjadi tiga bagian, yaitu membaca materi (20 menit), diskusi atau tanya-jawab materi, yang dilanjutkan dengan latihan menyusun paragraf.
Materi: Dasar-Dasar Menulis
Ada 3 hal penting yang perlu diperhatikan dalam menulis, yaitu pemilihan kata, penulisan kalimat, dan penyusunan paragraf.
1.   Pemilihan Kata

Pilihan kata atau diksi merupakan aspek penting dalam menulis. Pemilihan kata hendaknya disesuaikan dengan tujuan dan konteks penulisan. Antara penulisan personal, formal, dan akademik, diksi yang digunakan bisa sangat berbeda meskipun dimaksudkan untuk mengungkapkan hal yang sama seperti pada gambar dibawah ini.
·         Ibu guru sedang ngobrol-ngobrol dengan kepala sekolah. (Personal)
·         Ibu guru sedang berbincang-bincang dengan kepala sekolah. (Formal)
·         Ibu guru sedang berdiskusi dengan kepala sekolah. (Akademik)
Ketiga kalimat diatas memiliki makna yang sama dengan tujuan dan konteks penulisan yang berbeda.
·         Penulisan Kalimat

Kalimat terdiri dari kalimat sederhana (simple sentence), kalimat gabungan (compound sentence), kalimat kompleks (complex sentence), dan kalimat campuran. Kalimat sederhana terdiri dari satu klausa yang memiliki 1 subyek dan 1 predikat. Kalimat gabungan dibuat dengan menambahkan salah satu kata dari singkatan FANBOYSfor (untuk), and (dan), nor (maupun), but (tetapi), or (atau), yet (namun), so (sehingga). Sedangkan kalimat kompleks dirangkai dengan menambahkan kata seperti when (ketika), after (setelah), because (karena), since (sejak), although (meskipun), while (sementara), dan lainnya. Berikut contoh kalimatnya:
·         Sederhana: Saya membaca tulisan di blog.
·         Gabungan: Saya membaca tulisan di blog untuk menambah pengetahuan saya tentang cara menulis kalimat.
·         Kompleks: Saya membaca tulisan di blog ketika sedang bekerja dari rumah.
·         Campuran: Saya membaca tulisan di blog untuk menambah pengetahuan saya tentang cara menulis kalimat ketika sedang bekerja dari rumah.
·         Penyusunan Paragraf
Paragraf adalah kumpulan kalimat yang mempunyai satu kalimat utama (topic sentence) sebagai ide pokok atau gagasan utama (main idea) dan beberapa kalimat penjelas (supporting sentences) sebagai detail yang menjelaskan ide pokok. Salah satu jenis paragraf yang mempermudah pembaca memahami isi lebih cepat adalah paragraf deduktif karena memiliki kalimat utama yang berada di awal Paragraf. Paragraf yang diawali dengan pernyataan yang bersifat umum ini diikuti oleh beberapa penjelasan-penjelasan khusus seperti contoh-contoh, rincian khusus, bukti dan lain sebagainya.
Kalimat topik sebaiknya dibentuk dengan kalimat sederhana. Dalam setiap kalimat topik hendaknya ada controlling idea, yaitu ide atau opini penulis mengenai topik dari sebuah topic sentence. Setelah menetapkan kalimat topik, dibutuhkan kalimat penjelas (supporting sentences) untuk membantu pembaca memahami tujuan tulisan tersebut. Bentuk kalimat penjelas harus bervariasi, terdiri dari kalimat gabungan dan kompleks, serta dilengkapi dengan kata penghubung sebagai transisi antar kalimat supaya paragraf mengalir dengan baik dan mempermudah pembaca memahami dan menikmati alurnya.
Contoh paragraf yang baik:
Bekerja dari rumah memiliki kekurangan dan kelebihan. Pada satu sisi, bekerja dari rumah menjadikan jadwal kerja tidak begitu jelas sehingga karyawan harus membuat jadwal jam kerja sendiri. Bekerja jadi tidak nyaman bagi yang memiliki rumah sempit. Pada sisi lain, bekerja dari rumah justru waktu menjadi lebih fleksibel dan lebih banyak waktu untuk keluarga. Selain itu, bekerja dari rumah bukan hanya dapat menghemat pengeluaran untuk biaya transportasi tetapi juga menghemat biaya operasional kantor.
Paragraf diatas juga dapat dibuat bervariasi dengan menambahkan kata sambung agar lebih enak dibaca dan dipahami, seperti:
Bekerja dari rumah memiliki kekurangan dan kelebihan. Pada satu sisi, bekerja dari rumah menjadikan jadwal kerja tidak begitu jelas sehingga karyawan harus membuat jadwal jam kerja sendiri. Bekerja jadi tidak nyaman bagi yang memiliki rumah sempit. Pada sisi lain, bekerja dari rumah justru waktu menjadi lebih fleksibel dan lebih banyak waktu untuk keluarga. Selain itu, bekerja dari rumah bukan hanya dapat menghemat pengeluaran untuk biaya transportasi tetapi juga menghemat biaya operasional kantor.
Setelah pemaparan materi, pembelajaran dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang dipandu oleh Mr. Bams (Pak Bambang) selaku ketua kelas. Ada sekitar 36 pertanyaan ataupun komentar yang muncul di WhatsApp Grup kami, yaitu:
1.   Dito Anurogo – Dosen Unismuh Makassar
2.   Bagaimana proses dan rahasia kreatif Anda?
3.   Adakah hambatan terbesar selama proses kreatif ini?
4.   Bagaimana Anda melihat fenomena literasi pada generasi milenial saat ini? Terutama dengan maraknya medsos dan berita hoaks.
·         a) Proses dan rahasia kreatif yang saya lakukan adalah dengan membaca.
Inspirasi itu secara ilmiah bukan berarti ditemukan dengan merenung di bawah pohon atau duduk di pinggir danau sambil melamun. Jika anda ingin menulis, berarti harus banyak baca dulu. Memperbanyak input sebelum outputnya ditulis.
b) Hambatan terbesar adalah mencari Niche alias topik yang orisinil yang belum ditulis oleh orang lain. Saya lebih sudah menyebutnya sebagai tantangan. Ibarat mau meneliti, tantangannya adalah mencari reserach gap sebagai novelty penelitian kita.
c) Literasi digital generasi milenial masih sangat minim. Gerakan literasi digital di Indonesia sudah banyak yang mengarah ke penanggulangan hoaks, ciber bullying, pornografi, dan lainnya. Justru yang kurang adalah literasi digital untuk keperluan akademian sebagai bekal generasi milenial untuk belajar di era digital. Belum ada gerakan literasi digital yang mengarah ke situ. Tahun kemarin saya meneliti literasi digital untuk keprluan akademik bagi mahasiswa generasi milenial dengan hibah PDP Dikti. Senang jika ada yang meneruskan penelitian itu.
Bilal – Bengkulu: Bagaimana tips memilih konjungsi yang tepat untuk menghubungkan setiap kalimat dalam satu paragraf dan bagaimana menghubungkan antar paragraf?
·         Konjungsi antar kalimat dipilih berdasarkan jenis kalimatnya. Sedangkan, konjungsi antar paragraf dikontrol dengan kalimat topiknya. Untuk menjawab ini harus melihat gambaran besar struktur sebuah artikel.
·         Struktur artikel terdiri dari: pendahuluan, isi, dan kesimpulan. Jika ditarik garis-garis, semuanya berkaitan. Mulai dari judul, pendahuluan hingga kesimpulan. Jadi, dalam pendahuluan, penulis mencantumkan thesis statement alias pendapat penulis dulu. Pendapat penulis mengandung beberapa kalimat topik. Nah, kalimat topik itu nanti yang akan ditaruh satu per satu di setiap paragraf. Sehingga satu artikel nyambung semuanya.
·         Kemudian, terkait menyambungkan antar kalimat, perlu diketahui tentang ini dulu. Kalimat terbagi menjadi 4: pernyataan, pertanyaan, perintah, dan seruan.
Jadi, dilihat, kalau kalimatnya mengandung sesuatu yang kontras bisa gunakan konjungsi: namun, padahal, dan lainnya. Juga terdapat beberapa fungsi konjungsi. Dalam bahasa inggris enak sudah ada daftarnya. Pada bahasa indonesia perlu diterjemahkan dulu
Suheri – Tangerang: Bagaimana cara membuat diksi yang indah dan bisa dinikmati oleh pembacanya?
Diksi tidak perlu indah yang penting sampai pada pembaca. Jadi, dalam memilih diksi sesuaikan dengan target pembaca. Diksi yang terlalu tinggi itu justru bikin tulisan melayang dan tidak menyentuh ke tanah. Ibaratnya begitu. Itu istilahnya adalah inflated words.
Rifatun – Salatiga: Dalam membuat kalimat harus jelas topik yang dibahas/diutarakan.  Apakah bisa untuk memperjelas kalimat yang dimaksud menggunakan bahasa dalam sebuah kalimat menggunakan bahasa lokal. Dan apakah daerah lain paham jika menggunakan bahasa lokal.  Jika tanpa ada keterangan yg umum/bahasa yg diketahui oleh umum.
·         Bisa. Cara penulisannya, bahasa lokal dituliskan dengan huruf miring. Kemudian dikasih penjelasan apa yang dimaksud dari istilah lokal yang digunakan tersebut. Apabila sudah ditulis miring sebetulnya dalam kaidah penulisan Bahasa Indonesia semua orang sudah paham kalau itu istilah di luar Bahasa Indonesia.
Supyanto – Bekasi: Bagaimana cara berlatih supaya kita pandai memilih atau menempatkan kata-kata, sehingga menarik bagi para pendengar atau pembaca?  
Sekali lagi, perbanyak input. Perbanyak membaca dulu sehingga kata-kata yang anda miliki akan semakin kaya. Maaf, kasarannya seperti itu, jangan harap bisa menulis bagus kalau tidak pernah membaca. Nantinya, anda akan dengan otomatis ketika ingin menulis muncul diksi-diksi yang bagus. Tulisan anda juga otomatis akan semakin bagus.
Ini ceklist bagaimana cara memilih diksi:
·         Gunakan kata-kata yang menarik.
·         Pastikan pembaca mengerti setiap kata yang ditulis.
·         Pastikan penggunaan kata baru yang dimengerti pembaca.
·         Hindari melakukan pengulangan kata.
Jadi sebetulnya tolok ukur pemilihan diksi yang paling penting adalah apakah diksi/kata yang dipilih dipahami pembaca atau tidak.
Menurut pengalaman Mas Imam Fitri Rahmadi, lebih sulit mana menyusun kata kalimat paragraf dengan mengoreksi tulisan orang lain. Karena hukumnya sama. Kalau membuat kalimat yang dilihat diparagraf tinggal memberi kata penyambung yang manis, jika mengoreksi tulisan orang lain lebih sulit apa sebaliknya?
·         Hmmm..menyusun dan mengoreksi. Mengoreksi dalam arti apa ini? Kalau membenarkan tulisan orang lain yang banyak kesalahannya memang cukup rumit. Mending ditulis ulang dengan kata sendiri. Ibarat penjahit, lebih suka jahit baju dari awal daripada harus benerin baju yang salah jahit. Namun, jika dasar-dasar menulis sudah dikuasai, akan mudah mengoreksi tulisan orang lain.
Isminatun – Sukoharjo:  Mohon pencerahan Bapak Imam. Beberapa saat lalu saya cukup aktif berlatih menulis. Rasanya waktu itu agak lancar. Dalam kurun waktu 2 tahun tidak latihan lagi. Saat memulai jadi kaku dan terasa harus mengulang dari awal. Mengapa begitu?
·         Bahasa secara alamiah memang seperti itu, baik dari segi writingspeakinglistening, maupun reading. Jadi, itu normal karena otak belum terbiasa untuk mengolah bahasa kembali. Solusinya, membiasakan diri kembali untuk menulis. Sebetulnya tidak mengulang dari awal, Ibu tinggal me-recall/memanggil kembali kebiasaan Ibu dalam menulis dulu, kemudian mulai dibiasakan lagi mulai dari sekarang hingga ke depannya.
Rasita – Kepala SDN 16 Penarik Kab Mukomuko Prov Bengkulu: Bagaimana membuat paragraf yang tepat?
·         Ini pertanyaan mendasar yang sangat penting. Pahami kembali struktur paragraf. Materi yang saya tulis belum terlalu dalam membahas tentang penyusunan paragraf. Melalui pertanyaan ini, akan saya coba perdalam.
·         Ini struktur paragraf yang lebih lengkap. Jadi kalimat penjelas itu terbagi menjadi 2: 1) kalimat penjelas mayor; dan 2) kalimat penjelas minor. Kalimat penjelas mayor menjelaskan kalimat topik. Kalimat penjelas minor menjelaskan kalimat penjelas mayor. Kemudian, diakhiri dengan kalimat penutup bila diperlukan.  Kalimat penjelas dapat berupa fakta, alasan, contoh, data, dan lain sebagainya.
·         Praktik menulis paragraf yang tepat, sekiranya begini. Selalu tanyakan “what/why” apa atau kenapa dari kalimat topik. Jika kalimat topik membutuhkan detail apa, maka jelaskan apanya. Jika kalimat topik butuh detail kenapa, maka jelaskan kenapanya.
·         Satu lagi, jika apa dan kenapa tidak berfungsi, saatnya berpikir alternatif dengan kata “jika”. Yang ini agak susah dijawab dengan tulisan. Namun, beberapa paragraf dalam tulisan materi saya ada juga yang menggunakan alternatif kata “jika”.
Aam Nurhasanah, S.Pd. – Kp. Gajrug, Lebak-Banten: Bagaimana membuat sebuah paragraf yang baik dan menarik untuk dibaca? Karena sudah berkali-kali saya coba buat tulisan, tulisan saya kurang menarik dan biasa saja. Adakah tips khusus untuk mengembangkan sebuah diksi, kalimat, dan paragraf yg menarik untuk dibaca?
·         Paragraf yang baik dan benar harus memperhatikan koherensi dan kohesinya. Jika keduanya terpenuhi, paragraf baik. Koherensi berarti logikanya nyambung dari kalimat topik hingga minor detailnya. Kohesi berati kata, diksi, konjungsi yang dipakai tepat hingga mudah dibaca.
·         Setidaknya ada 2 model yang bisa membantu Ibu bagaimana menyusun paragraf yang baik. Model pertama: PEEL; yaitu P (Point): kalimat topik. E (Elaborate): penjelasan kalimat topik (major detail). E (Evidence): bukti yang menjelaskan major detai (minor detail) yang bisa berisi fakta, quote, data, atau contoh. L (Link): diakhiri dengan menyambungkan semuanya di penutup.
·         Ini model yang ke-2. C (Claim): klaim sebagai pernyataan kalimat topik. P (Proof): bukti yang bisa anda berikan untuk mendukun kalimat topik. dan R (Relevance): kaitan keduanya sebagai kesimpulan atau penutup jika diperlukan.
Saya baru tahu perbedaan penggunaan aku dan saya. Waktu menulis di blog saya sempat bingung pake aku atau saya. Pertanyaan: untuk artikel bebas yang mana yang harus digunakan. kata personal, formal atau akademik?
·         Artikel bebas atau artikel populer bisa menggunakan antara kata personal atau formal. Yang pasti, kata ganti orang sangat dihindari dalam penulisan akademik. Dalam konteks blog, saya dan anda masih termasuk formal, para blogger profesional banyak menggunakan kata ganti itu. Aku dan kamu bisa digunakan juga supaya terasa lebih personal. Jadi, lihat kembali siapa pembaca.
Sius – SMA 2 Salatiga: Tentang penggunaan kalimat, kata atau juga frasa. Terkadang dalam menulis buku ada beberapa istilah teknis yang justru kalau diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia sedikit aneh, dan mungkin berubah pemahaman bagi pembaca. Adakah ketentuan dari penerbit bahwa naskah diupayakan dalam bahasa Indonesia yang baku?
·         Tidak ada. Dalam tata Bahasa Indonesia yang resmi pun kata asing boleh dimasukkan dengan cara penulisan tersendiri. Biasanya dengan dicetak miring.
·         Semua tergantung konteks dan target pembaca sebetulnya. Penerbit besar seperti Elexmedia, naskah teman saya diterbitkan disana dengan gaya bahasa elu gue. Tidak msalah karena target pembaca anak alay.
Mukminin – Lamongan: Sebaiknya dalam karya ilmiah menggunakan paragraf deduktif, induktif atau campuran. Atau boleh semuanya?
·         Secara umum, boleh semuanya. Namun, dalam teori penulisan akademik, supaya paragraf mudah dipahami gunakan paragraf deduktif. Jadi, kalimat pokok selalu di depan. Dalam penulisan artikel jurnal juga seperti itu.
·         Sejauh saya mengamati, penerapan paragraf deduktif, induktif atau campuran, itu hanya diaplikasikan dalam reading atau naskah bacaan untuk ujian bahasa atau ujian sekolah. Namun, praktek dalam menulis, yang banyak digunakan adalah paragraf deduktif.
Agus – Ponjong: Apakah dalam penulisan paragraf dalam sebuah buku misalnya buku untuk materi pembelajaran maka diksinya harus selalu akademik atau boleh bervariasi?
·         Sekali lagi, pemilihan diksi tergantung target pembaca. Dalam konteks buku pelajaran sebaiknya gunakan diksi yang formal saja. Siswa akan bingung jika diksi terlalu akademik. Beda misalkan membuat buku teks untuk anak kuliah atau kalangan akademisi, dimana ini sudah masuk ke penulisan akademik, gunakan diksi akademik.
Ridwan Nurhadi – Tangerang: Apakah menulis harus benar-benar menggunakan kata baku meskipun untuk cerita fiksi.
·         Tidak. Sederhananya, mengutip judul lagunya almarhum Glen Fredly, “terserah . . .” Sesuka penulisanya jika ingin menulis fiksi. Namun, ada satu hal yang tetap dijadikan patokan, setiap satu paragraf pasti ada inti pesan yang ingin disampaikan meskipun dalam penulisan fiksi. Tetapi, dalam penulisan paragraf tersebut tidak seketat penulisan non-fiksi.
Firdaus – SMKN 16 Jakarta: Apakah sebuah paragraf yang Baik harus terdiri dari 4 jenis kalimat seperti contoh.
·         Tidak. Ini sepertinya sudah ada jawabannya di komentar tulisan di blog
Uri – Majalengka: Bagaimana cara membuat kalimat utama yang baik ketika kita akan menyusun paragraf dan dimana menempatkan kalimat utama tersebut pada suatu paragraf, apakah di awal, di tengah, atau di akhir paragraf, agar lebih mudah dalam menjabarkan menjadi sebuah paragraf yang utuh dan baik?
·         Ini rumus gampangnya. Kalimat topik selalu taruh di depan. Kalimat topik dilengkapi dengan controling idea atau ide pengontrol. Ide pengontrol itulah yang dijelaskan dalam kalimat penjelas. Kalimat penjelas dapat berupa aneka detail atau contoh. Kemudian diakhiri dengan kalimat penutup jika dibutuhkan
Suheri – Tangerang: Bagaimana cara membuat diksi yang indah dan bisa dinikmati oleh pembacanya?
·         Baik, muncul lagi pertanyaan seperti ini, ini penjelasan lebih lanjutnya:
Ada 6 prinsip dalam memilih diksi:
1.   Pilih kata yang mudah dipahami
2.   Gunakan kata yang spesifik dan kontekstual
3.   Pilih kata yang paling kuat diantara pilihan diksi yang ada
4.   Lebih baik, tekankan pada penggunakaan kata yang positif daripada sebaliknya
5.   Hindari penggunaaan diksi yang tinggi secara berlebihan
6.   Juga hindari diksi yang terlalu jadul
Jadi, sekali lagi, diksi dipilih sesuai target pembaca.
Yulius Roma – Tana Toraja, Sulawesi Selatan: Masalah yang sering saya temui adalah menyusun kalimat topik. Topik seringkali sudah siap tempur dalam pikiran, namun ketika akan dirangkai masuk tulisan, topik itu menjadi rumit kembali untuk dirangkai.  Adakah trik paling sederhana bagaimana menyusun kalimat topik dalam sebuah paragraf. 
·         Paling sederhana, bikin outline kalimat topiknya terlebih dahulu dalam bentuk ceklist atau dinomorin. Ini sebenernya masuk ke pembahasan lain, tapi mari kita singgung sedikit. Jadi, dalam menulis, bikin dulu outlinenya. Mulai dari Pendahuluan, isi, dan penutup. Dari pendahuluan sudah ditentukan apa yang akan dibahas (thesis statement). Thesis statement/poin yang akan dibahas dijadikan controlling idea pada setiap kalimat topik. Diakhiri dengan menyimpulkan semuanya. Ketika outline bagus, tulisan bagus. Silakan perhatikan tulisan materi saya di blog. Pada pendahuluan sudah ketahuan akan membahas apa. Pada isi, itu lah yang dibahas. Terakhir, saya kasih kata-kata penutup sedikit. Ingat format ini.
Iren – DIY: Apabila sebuah tulisan berupa paragraf ditujukan untuk anak SD usia kelas atas, kira-kira kalimat majemuk apa yg sebaiknya dibuat agar tidak rumit dan mampu dipahami dengan baik namun tidak monoton?
·         Semua variasi kalimat bisa digunakan. Betul, supaya tidak monoton dan membosankan ketika dibaca. Seperti yang tertera di materi, yang menentukan rasa tulisan adalah lebih ke diksi yang digunakan. Ibarat seperti gambar ini yang mengibaratkan menulis seperti melukis, diksi itu seperti warna pada lukisan. Lukisan untuk orang dewasa dengan lukisan untuk anak-anak sangat berbeda warnanya. Begitu juga dengan tulisan anak-anak diksi yang digunakan pasti lebih mudah dipahami daripada diksi pada tulisan untuk orang dewasa. Kalimat sederhana jika diksinya tinggi juga susah dipahami. Jadi, lebih perhatikan ke diksi yang ingin digunakan untuk anak SD.
Fatimah, S.Si.: Tip dan trik apa yang digunakan agar tulisan kita terlihat baik dan menarik, dan  bagaimana cara kita memilih kata yang benar. Bagaimana cara kita bisa membuat kalimat campuran yang baik?
·         Tulisan yang baik dan menarik adalah yang ditulis sesuai dengan kaidah penulisan, terutama ini dalam konteks penulisan formal dan akademik.
·         Tips dan trik:
·         Perbanyak input: membaca
·         Berlatih: mencoba sedikit demi sedikit beberapa dasar menulis yang sudah kita pelajari
·         Menulis: rajin menulis
·         Kata yang benar adalah kata yang digunakan sesuai dengan tujuan dan konteksnya. Kata yang baik adalah kata yang bisa menyampaikan informasi sesuai yang diinginkan oleh penulis sesuai dengan target pembaca. Pemilihannya berati disesuaikan dengan tujuan, konteks, dan target pembaca.
·         Kalimat campuran adalah gabungan dari kalimat gabungan dan kalimat kompleks.

·         Kalimat gabungan dibuat dengan menambahkan salah satu kata dari singkatan FANBOYSfor (untuk), and (dan), nor (maupun), but (tetapi), or (atau), yet (namun), so (sehingga). Sedangkan kalimat kompleks dirangkai dengan menambahkan kata seperti when (ketika), after (setelah), because (karena), since (sejak), although (meskipun), while (sementara), dan lainnya.
Jika sudah sesuai dengan kaidah di atas, kalimat campuran akan baik. Silakan lihat contoh pada materi di blog.
Iin – Kediri: Apakah ide yang kita tulis harus dijelaskan dengan detail ataukan kita menganggap bahwa pembaca sudah punya schemata sehingga beberapa hal tidak perlu kita jelaskan dengan rinci?
Pertanyaan memiliki 2 dimensi. Jika dalam karya fiksi dan/atau dalam penulian personal, ide justru disimpan. Seperti cerpen yang ada plotnya, ide ditaruh di klimaks atau dikasih tahu pelan-pelan supaya pembaca penasaran. Namun, dalam penulisan non-fiksi dan/atau penulisan formal dan akademik, ide justru harus disebutkan secara gamblang di depan. Ide harus sudah ditonjolkan di pendahuluan, diturunkan jadi kalimat topik, dan disimpulkan di akhir. Misal, dalam menulis artikel jurnal, bahkan ada yang namanya abstrak yang berisi isi tulisan, dengan membaca abstrak saja sudah tahu gambaran seluruh isi artikelnya. Dalam penulisan formal, para jurnalis meletakkan semua ide/informasi penting di paragraf pertama, baru informasi yang tidak penting di belakang. Namanya model piramida terbalik seperti ini.
Miseran – Kalsel: 1) Sejak kapan bapak memulainya dan adakah perasaan jenuh dan bagaimana mengatasinya. 2) Pernahkah tulisan bapak tidak dihargai orang dan bagaimana kita menimbulkan kepercayaan kepada tulisan kita sendiri?
·         1) Saya mulai rajin menulis sejak kuliah S1 dengan mengikuti salah satu komunitas menulis tentang narasi lokal di sini: https://akumassa.org/id/author/imam-fitri-rahmadi. Jenuh sesekali datang. Caranya tutup laptop, jalan keluar. Baru balik lagi dengan pikiran yang fresh.
·         2) Pernah, jangankan orang lain, saya juga pernah tidak menghargai tulisan saya sendiri  . Menulis merupakan sebuah proses yang lambat laun kita akan suka dengan tulisan kita sendiri. Selama proses tersebut, “bodo amat” saja dengan semua kata orang. Silakan baca tulisan saya 7 tahun silam, jelek banget. Seperti semangat yang selalu disampaikan Omjay, menulis saja terus dan buktikan apa yang terjadi. Yang lebih penting, temukan motivasi internal dalam diri kenapa harus menulis. Kalau motivasi internal sudah kuat, gak peduli kata orang, menulis tetap jalan terus. Jika kita sendiri sudah suka dengan tulisan sendiri, itu sudah jauh dari cukup ketimbang ambil hati komen orang lain.
Ropiyanto – Curup, Bengkulu: Mana yg lbih efektif digunakan, deduktif atau induktif?
·         Dalam penulisan formal dan akademik, paragraf deduktif lebih efektif dan sangat disarankan.
Iez – Dosen Ikip Jember:
Menulis yang kreatif tidak datang di bawah pohon, tetapi dengan merenung melihat fenomena barangkali ide ada di situ, awal saya bingung sekali karena pengalaman saya menulis artikel scopus berlatar belakang dasar teori yg mengkerucut, nahh pertanyaan saya, yang mana yang dikatakan menulis itu mudah jika tidak punya dasar literasi yg cukup?
Jika itu mudah ditulis, apakah benar-benar tidak pernah ditulis orang lain tanpa harus menulis studi pendahulu?
Kebetulan saya riset tentang bimbilon yaitu bimbingan online kebetulan saya merujuk pada artikel Khasvari dr Austria, tentang peningkatan Social Presence bagi pembelajar jarak jauh, barangkali bisa ada pencerahan dari Mas Imam Fitri Rahmadi?
·         1) Menulis personal seperti update status dan lainnya mudah. Menulis formal seperti menulis berita dan laporan formal membutuhkan dasar literasi yang cukup. Menulis akademik seperti menulis laporan penelitian dan artikel jurnal membutuhkan dasar literasi yang tinggi.
·         2) Ada yang bilang, tidak ada yang baru selama masih berada di bawah sinar matahari, jadi segala kebaruan (inovasi) yang ada pasti ada silsilahnya ke belakang, maka studi pendahuluan paling tidak dengan systematic literature review harus dilakukan. Apalagi menulis untuk jurnal Scopus, novelty-nya harus kuat. Untuk menyatakan bahwa tulisan punya kebaruan, tidak bisa hanya dengan klaim semata, tetapi harus dengan pembuktian dari apa yang sudah dilakukan oleh penelitian sebelumnya ternyata belum menyentuh pada fokus penelitian yang kita lakukan.
·         Saya perlu membaca artikelnya dulu. Silakan bisa dilanjut via japri.
Apakah dalam ragam tulisan formal dan akademik harus selalu SPOK? Atau haruskah selalu ada unsur tersebut?
·         Tidak, susunannya bisa divariasi. Namun, minimal harus ada unsur Subjek dan Predikat untuk bisa sah dianggap sebagai kalimat.
Etik Nurinto, S.Pd. – SD Kabupaten Pemalang Jawa Tengah: Bagaimana ciri-ciri paragraf yang baik, apa harus lengkap dengan struktur kalimat dan pemilihan diksi yang tepat atau yang enak dibaca saja?
·         Secara teoretis, paragraf yang baik sudah saya jelaskan pada materi di blog dan diperjelas kembali lewat jawaban dari pertanyaan-pertanyaan sebelumnya. Sebagai penulis pemula, bisa bertahap tidak harus langsung sempurna sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
·         Jadi, mohon maaf, Bapak dan Ibu, jangan sampai semua teori yang kita bahas malam ini justru bikin keder untuk menulis. Pelan-pelan saja mari kita pahami dan mulai terapkan sedikit demi sedikit.
Rolly – Kalsel: Apakah ada gaya menulis klasik dan modern? Kalo ada apa bedanya dari segi penulisan?
·         Maaf, saya baru mendengar klasifikasi menulis dari segi klasik dan modern, saya tidak bisa jawab.
Etik Susanti – SDN Tunggaknongko Semanu Gunungkidul Yogyakarta: Teknik curah gagasan yang seperti apa agar efektif dan efisien dalam era ini sebagai upaya menyimpan ide yang mudah terlupakan saat terlintas dipikiran kita? Kalau jaman dulu tulis di kertas kecil (blocknote) dan Hp.
·         Curah gagasan atau bahasa kerennya brainstorming memang sering dilakukan untuk menghimpun ide, biasanya lebih efektif dengan berdiskusi dengan orang lain sebagai lawan berpikir. Cara yang sudah disampaikan oleh Om Bud kemarin itu out-of-the-box banget dalam mencari dan mendokumentasikan ide.
Bisakah jawaban Pak Imam pake Bahasa Indo? Kurang ngerti Bahasa Inggris.
·         Mohon maaf atas hal tersebut. Ini sekaligus menginformasikan bahwa semua gambar tersebut bukan buatan saya melainkan saya kumpulkan dari berbagai sumber untuk membantu menjelaskan. Pelan-pelan saya akan coba terjemahkan gambar tersebut menjadi tulisan berbahasa indonesia supaya lebih mudah dipahami.
Noralia – Semarang: Jika suatu bacaan terpatok pada EYD yang tepat, benar ataukah tidak jika nanti tulisan tersebut akan terasa lebih kaku, seperti saat kita sedang membaca tulisan ilmiah. Lain cerita kalau novel atau cerpen atau mungkin tulisan fiksi lain, sepertinya tidak melulu menggunakan EYD yang baku.
·         Betul, tulisan fiksi lebih fleksibel daripada tulisan non-fiksi. Namun, kalau terkait EYD atau yang sekarang adalah PUEBI, kedua jenis penulisan harus sesuai dengan aturan PUEBI kalau tidak akan susah dipahami. Beda kalau terkait kata, kalimat, dan paragraf, karya fiksi terserah tidak harus sesuai dengan aturan dasar yang kita bicarakan barusan.
Rusmin (G8-017) – Kab. Barito Kuala KALSEL: Penulisan kata yang kurang sesuai dengan tujuan atau konteks tulisan, seperti mestinya diksi tersebut lebih pada personal tetapi sebenarnya tujuan tulisan itu adalah laporan. Apakah ini tidak merupan bagian dari pembeda/sekat antara penulis dengan penerima laporan sehingga kedekatan secara personal pun dirasakan. Dan apa dampak dari kesalahan diksi itu?
·         Laporan dalam konteks pekerjaan memang harus dengan diksi yang formal untuk menunjukkan profesionalitas. Kedekatan personal dalam konteks kerja profesional justru menjadi hal yang kurang pas. Bisa saja dekat secara personal, namun untuk urusan laporan kerja tetap formal.
·         Diksi yang salah membuat kalimat susah dipahami dan bisa berujung pada miskomunikasi.
Asep Dahlan – Kepsek SLB Jakarta: Dalam membuat paragraf kadang saya terjebak dengan kalimat yang sudah terlanjur ditulis. Bagaimanakah agar tulisan saya mengalir dalam membuat paragraf?
·         Hal tersebut sangat lumrah. Supaya tidak terjebak, buat outline pointer yang ingin ditulis. Bisa juga menerapkan strategi free writing, yaitu tulis aja semuanya dulu yang ada di kepala baru nanti dirapihkan lagi
Budi Artopo – SDN MeLikan Rongkop GunungkiduL Yogyakarta: Bagaimana cara mengembangkan tema jika sudah mentok Pak?
·         Lihat dari perspektif yang lain. Ibarat tema merupakan suatu bangun, awalnya kita menulis dengan sudut pandang dari sebelah kiri bangunan, kembangkan dengan melihat dari sudut sebaliknya dan sudut yang lainnya.
Wiji – Malang: Jika pembaca kita adalah murid SMP mata pelajaran Bahasa Inggris, dalam membuat paragraf berdasarkan level pahaman mereka, yang sesuai paragraf deduktif atau induktif?
·         Dalam menulis, supaya lebih mudah dipahami, gunakan paragraf deduktif.
Siti Fatimah – Mojokerto: Saya baru belajar menulis dimulai pada grup belajar. Dan selama ini saya menulis di blog tanpa menggunakan aturan sama sekali. Saya biarkan tulisan saya mengalir sebebas-bebasnya. Menulis bebas ada kenikmatan tersendiri.  Rasa takut kalau tulisan kita salah tak ada lagi. Namun jika saya mengikuti aturan yang detail tersebut saya malah belum. Apakah tulisan saya yang gaya bebas ini merupakan tulisan yang kurang benar, dalam kaidah menulis?
·         Kaidah menulis sesuai dengan konteksnya, dan lebih berlaku untuk penulisan formal dan penulisan akademik. Dalam kasus Ibu Siti yang menulis di blog secara personal dengan gaya sesuka hati, sebetulnya sah-sah saja. Tidak ada yang melarang dan menyalahkan. Namun, bisa jadi tulisan akan sedikit susah dipahami karena tidak sesuai dengan kaidah yang lumrah.
Saran saya, sebebas-bebasnya menulis, sebaiknya kaidah dasar menulis tetap diterapkan meski tidak seketat kalau mau menulis formal atau akademik.
Tito – Limapuluh Kota Sumbar: Karena peserta lain sudah banyak yang bertanya tentang materi, maka saya akan bertanya sedikit melenceng. Bagaimakah caranya agar kita bisa kuliah keluar negeri dengan beasiswa?
·         Cerita persiapan diri dan perjuangan saya dalam meraih beasiswa saya tuliskan di sini: https://tigabelase.wordpress.com/category/road-to-phd. Sungguh perjalanan yang cukup pajang. Bapak dan Ibu akan mengetahui berapa kali saya belajar Bahasa Inggris untuk bisa sampai pada sampai titik ini, berapa kali saya gagal melamar beasiswa, berapa kali mengirim email ke professor di luar negeri, dan lainnya. Semoga dapat bermanfaat bagi teman-teman yang ingin kuliah ke luar negeri dengan beasiswa.
Kesimpulan & Penutup
·         Terkait dengan kata dan penggunaannya secara umum, sebetulnya bahasa dapat dibagi menjadi 2 kategori: spoken dan written language atau bahasa lisan dan bahasa tulisan.  Bahasa lisan biasanya kosa kata dan struktur kalimatnya lebih sederhana, model seperti ini banyak diadaptasi untuk menulis dengan cara personal. Bahasa tulisan digunakan untuk penulisan formal dan akademik yang biasanya baik kata maupun struktur kalimatnya lebih kompleks. Jadi, jika ingin menulis formal dan akademik, pastikan yang dipakai adalah bahasa tulisan. Bahasa tulisan sangat konsern terhadap variasi penggunaan kata, penulisan kalimat, dan penyusunan paragraf.
·         Terkait dengan kalimat, 4 jenis kalimat dan fungsinya ini perlu diperhatikan kembali.
·         Kalimat pernyataan, berfungsi untuk menceritakan sesuatu.
·         Kalimat pertanyaan, berfungsi untuk menanyakan sesuatu.
·         Kalimat perintah, berfungsi untuk menginstruksian sesuatu.
·         Kalimat seruan, berfungsi untuk mengespresikan seuatu yang mengherankan/mengagetkan
Silakan keempatnya bisa digunakan untuk variasi tulisan, selain menggunakan formula kalimat sederhana, gabungan, kompleks, dan campuran.
·         Terkait dengan paragraf, ada 4 tipe yang lebih jauh perlu diketahui.
·         Jika bapak dan ibu hanya ingin menjelaskan apa itu virus corona, gunakan paragraf deskriptif.
·         Jika bapak dan ibu ingin menjelaskan asal mula virus corona, gunakan paragraf naratif.
·         Jika bapak dan ibu ingin menjelaskan cara pencegahan virus corona, gunakan paragraf ekspositori.
·         Jika bapak dan ibu ingin menjelaskan bahwa virus corona itu sangat berbahaya, gunakan paragraf persuasif.
Satu lagi tentang paragraf, seperti ini gambarannya jika dikemas dalam model humburger. Kalimat topik ada di atas. Kalimat penjelas di tengah. Kalimat penutup di akhir.
·         Latihan1:
Bapak dan Ibu, paragraf ini belum memiliki kalimat topiknya. Jadi kasihan, anak kalimatnya tidak memiliki induk kalimat. Minta tolong untuk dibuatkan kalimat topiknya kemudian ditaruh sebagai kalimat pertama pada paragraf tersebut.
Tetap di rumah saja dinilai sebagai salah satu cara yang paling efektif. Menggunakan masker ketika terpaksa harus bepergian dan selalu menjaga jarak dengan orang lain merupakan cara lainnya. Senantiasa jaga stamina dengan istirahat yang cukup juga dapat dilakukan untuk menjaga imun tetap baik sehingga tidak rentan tertular.
·         Latihan 2:
Paragraf ini baru ada kalimat topiknya. Mohon tambahkan minimal 3 kalimat penjelas:
Pendemi koronavirus mengubah pola orang dalam bersosialiasi, bekerja, dan belajar di Indonesia.
·         Latihan 3:
Buat satu paragraf dengan tema bebas. Kalimat topik harus memiliki ide pengontrol. Paragraf memiliki setidaknya 3 kalimat penjelas yang mendukung atau menjelaskan lebih lanjut ide pengontrol
Note: Latihan dikerjakan dalam tulisan terpisah dengan resume

Tidak ada komentar:

Posting Komentar