Kurator Buku; tak sekedar menerbitkan namun juga menebar manfaat - Ridwan Nurhadi

Breaking

Menulislah setiap hari dan lihatlah apa yang terjadi

Kamis, 14 Januari 2021

Kurator Buku; tak sekedar menerbitkan namun juga menebar manfaat

 





Pada artikel ini saya akan berbagi pengalaman menjadi Kurator buku di dua judul terbitan, yakni; 21 Kisah Penggugah Jiwa dan Surat Cinta untuk sahabat. Ketika buku kita terbit, disanalah peluang kita untuk menulis kembali semakin terbuka lebar. Kita dapat menjadikan buku kita yang terbit sebagai alat branding, misalnya dengan apa yang sering saya lakukan pada buku-buku hasil karya saya. Saya menempelkan stiker "BELI BUKU GRATIS BIMBINGAN MENULIS SAMPAI MENERBITKAN, HUBUNGI : WA NO 085282586864". Dengan iming-iming tersebut kita bukan sekedar menerbitkan dan menjual buku namun juga menebar manfaat bagi orang-orang yang membaca buku kita.


Menjadi Kurator dalam penulisan buku antologi menjadi langkah mudah untuk menulis buku ketimbang membuat buku solo. Dengan buku antologi, ratusan halaman bisa digarap bersama dengan penulis lainnya. Berbeda dengan buku solo yang harus kita garap sendirian dari mulai konsep sampai penerbitan. Jadi untuk kita yang ingin cepat menghasilkan karya selanjutnya menjadi kurator buku antologi adalah pilihan yang tepat.


Ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan untuk menjadi Kurator berdasarkan pengalaman saya, yakni;

  1. Mempersiapkan konsep pada buku antologi  yang akan digarap bersama. Bukunya mau seperti apa?, kumpulan puisi? kumpulan cerpen? atau yang lainnya.
  2. Memahami konsep buku, misalnya jika ingin membuat cerpen, maka cerpen itu penokohannya sederhana, hanya berpusat pada satu konflik saja. Jika ingin membuat puisi maka puisi itu dua baris dalam satu bait, memiliki rima yang sama dan lain sebagainya. Sedangkan untuk editing kurator bisa dibantu kelak oleh editor.
  3. Mencari calon penulis. Bisa dari para pembeli buku kita, saat mereka membeli buku, langsung kita tawarkan untuk bergabung menulis buku. 
  4. Membuat deadline pengumpulan naskah buku. Butuh berapa naskah setiap penulis?, butuh berapa lama pengerjaan. Jika deadline sudah terlewati dan belum terkumpul dari target 100 halaman. Kurator harus sigap mencari alternatif yakni, setiap penulis mengirim naskah tambahan atau kurator mencari penulis lain lagi,
  5. Mencari penerbitan yang sesuai kebutuhan. Dari pengalaman saya, memilih penerbit juga penting. Adakalanya kita perlu pindah haluan ke penerbit lain. Untuk daftar penerbit, anda dapat membacanya di blog saya ini.
  6. Bertarung ide dan gagasan dengan penerbit. Adakalanya kita berselisih paham dengan editor, ataupun desainer cover tentang buku yang kita garap. Disini dibutuhkan keberanian sang kurator untuk berani adu gagasan
  7. Antisipasi pengeluaran tak terduga. Kurator bertanggung jawab mengawal buku hingga terbit. Bisa saja saat proses ada pengeluaran tambahan seperti; penerbit minta biaya tambahan  kata sambutan, biaya tambahan pembuatan sertifikat bahkan menalangi dana para penulis yang belum patungan. Kurator harus memiliki solusi untuk semua permasalahan dalam menerbitkan bukunya.


Ada beberapa pengalaman pribadi yang kurang mengenakan saat membuat buku antologi bersama kurator lain dan menjadi pelajaran di kemudian hari, yakni;

  • Saat membuat buku antologi  "Mendesain Pola Pembelajaran Jarak Jauh" sang kurator memberikan harga jual buku kepada penulis dengan harga yang sama dengan harga jual pasaran. Misalnya harga jual pasaran Rp.100 rb dan para penulis diminta harga yang sama. Tentu saja ini merugikan penulis karena mereka tidak dapat keuntungan apa-apa saat menjual buku.
  • Saat membuat buku antologi "Kisah sang Guru", dengan mengumpulkan 48 penulis dan ternyata banyak penulis 'susah' untuk mengeluarkan dana awal untuk patungan membuat buku. Padahal dana awal itu diperlukan untuk membiayai proses pra cetak. Kasihan juga Kuratornya, bebannya bukan hanya naskah buku saja tapi juga finansialnya.
  • Adakalanya penerbit hanya menerbitkan sertifikat untuk penulis solo saja, jika antologi biasanya ada dana tambahan pembuatan sertifikat ini yang harus dikalkukasi diawal oleh sang Kurator. Meskipun bagi saya pribadi, sertifikat itu tidak penting yang penting adalah bentuk fisik karya kita. Namun untuk mengantisipasi permintaan para penulis, sang kurator dapat memberikan penawaran kepada grup penulisnya atau membuat sertifikat sendiri pada lembaga tertentu yang memiliki legalitas hukum.


Dengan segala tantangannya, tentu saja menjadi kurator buku antologi lebih mudah ketimbang menulis buku sendiri, meskipun keduanya memiliki tantangan yang hampir sama. Karena menjadi kurator bukan sekedar menerbitkan namun juga menebar manfaat, yakni mengajak orang lain ikut berkarya.

Ayo siapa yang berani jadi kurator?










1 komentar: