Gerakan Sekolah Menyenangkan - Ridwan Nurhadi

Breaking

Teacher | Writer | Trainer | Blogger | Youtuber

Rabu, 28 Agustus 2019

Gerakan Sekolah Menyenangkan


Kabupaten Tangerang siap menerapkan konsep Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) ke seluruh sekolah yang ada di wilayah tersebut secara bertahap. Itu dilakukan karena semakin besarnya tuntutan untuk meningkatkan mutu pendidikan.
“Kami punya rencana untuk menerapkan GSM ini ke sekolah-sekolah secara bertahap,” kata Bupati Tangerang, Ahmed Zaki Iskandar, Selasa, (13/11).
Saat ini, terang Zaki, terdapat sekitar 2.000 sekolah setingkat SD dan SMP di Kabupaten Tangerang. Seluruhnya membutuhkan  gerakan pembaruan pendidikan yang membuat para siswanya senang dan nyaman di sekolah.
Menurutnya, para guru perlu memahami GSM agar siswa betah menerima pelajaran, mau baca buku pelajaran maupun di luar mata pelajaran. Siswa diharap juga datang ke sekolah bukan karena terpaksa tapi karena senang.
Penerapan GSM diharapkan dapat mengeksplorasi imajinasi dan fantasi siswa sehingga bisa meningkatkan kemampuan literasi generasi muda. Zaki juga mengaku prihatin karena level kegemaran membaca anak-anak Indonesia sangat rendah. Berdasarkan sebuah penelitian, dari 100 anak hanya dua anak saja yang gemar membaca.
“Anak-anak pintar mengejar, pintar baca, tapi tidak suka membaca. Mereka mendapatkan ilmu, tapi cuma lewat doang, tidak mendalami,” ujarnya.
Pendiri GSM, Muhammad Nur Rizal menyerukan pentingnya literasi manusia sebagai prioritas utama dalam kebijakan pendidikan di era disrupsi revolusi digital. Ini perlu dilakukan agar manusia menjadi pelaku utama menuntun penggunaan teknologi bagi kesejahteraan dan kemajuan sosial di masa akan datang. Manusia tak tergantikan oleh teknologi.
“Sangat disayangkan jika kodrat nalar yang dimiliki anak-anakhanya dipakai untuk menghafal isi buku teks, menjawab pekerjaan rumah, atau menjawab soal ujian saja, tetapi tidak digunakan untuk belajar menjawab persoalan yang semakin kompleks hari ini,” ujar Rizal.
Padahal the World Economic Forum (WEF) menyatakan bahwa tuntutan industri kerja sejak tahun 2020 akan berubah. Rizal menjelaskan, 36 persen menuntut kemampuan complex problem solving serta sekitar 20 persen kemampuan sosial, komunikasi dan kolaborasi, sedangkan ketrampilan pengetahuan hanya dibutuhkan 10 persen saja. Ironisnya, sistem pendidikan masih berkutat pada penguasaan akademik hapalan saja.
“Makanya perlu serius membenahi sistem pendidikan kita yang telah usang karena negara lain sudah sangat cepat berubah mereformasi sistem pendidikannya agar adaptif dengan perubahan zaman,” kata Rizal.